Minggu, 18 November 2012
Tulisan.
Sudah lama sekali rasanya tidak menulis.
Ketika masih kuliah dulu saya sempat punya kolom khusus di suatu majalah sains dan teknologi di Bandung. Tulisan saya ketika itu mengenai gaya hidup hemat energi, sejalan dengan bidang keilmuan yang saya gemari saat itu, konservasi energi.
Mulai bekerja, mempunyai rutinitas dan bidang pekerjaan yang benar-benar baru serta merta menyita waktu dan pikiran. Sehingga saya memutuskan untuk melepas tanggung jawab sebagai penulis lepas. Begitu juga dengan blog ini, mungkin jika ada semacam debu digital, blog ini saya yakin sudah tebal dilapis debu.
Menulis bagi saya ialah cara paling efektif untuk mendistribusikan tekanan. Dengan menulis seolah saya mereorganisasikan apa sedang saya pikirkan.
Pelan-pelan merunut apa yang terjadi....
Karena terkadang beban pikiran masuk bertubi-tubi, melanda kita kian kemari,tiba-tiba semuanya sudah terjadi dan lewat begitu saja.
Dengan menulis saya dapat meringankan beban pikiran serta mengurai benang-benang pikiran yang kusut. Mengekspresikan emosi yang terpendam.
Melalui tulisan saya dapat jujur dan sadar.
Senin, 30 Juli 2012
Minggu, 10 Juni 2012
Selasa, 05 Juni 2012
Paddle your Submarine
"Cause when you're done with this world,
You know the next is up to you.
And for once in his life it was quiet,
As he learned how to turn in the tide,
And the sky was a flare,
When he came up for air,
In his homemade, fan-blade, one-man submarine ride"
- John Mayer, "Walt Grace's Submarine Test, January 1967 "
You know the next is up to you.
And for once in his life it was quiet,
As he learned how to turn in the tide,
And the sky was a flare,
When he came up for air,
In his homemade, fan-blade, one-man submarine ride"
- John Mayer, "Walt Grace's Submarine Test, January 1967 "
Sabtu, 02 Juni 2012
Sedikit tentang Ujian Masuk.
Sudah 5 tahun lewat sejak saya menghadapi ujian masuk Perguruan Tinggi. Periode itu, hingga saat ini, saya yakini merupakan salah satu momen terpenting dalam hidup saya. Ujian masuk PTN, apapun namanya, selalu membuat dada berdebar. Tidak hanya ketika saat menghadapinya, namun juga ketika mendengar cerita mengenai persaingan meraih kursi serta kehidupan kampus yang akan dijalani kelak. Kelulusan SMA adalah satu hal, namun lulus PTN spesial.Tidak hanya kebahagiaan diterima di kampus idola, namun juga kesempatan meraih masa depan yang lebih baik.
Saya tiba-tiba berpikir mengenai hal ini kembali, dikarenakan adik-adik sepupu yang sekarang ambil bagian. Saat ini jalur masuk PTN tidak lagi sesederhana seperti masa saya. Dulu hanya ada 3 jalur, ujian yang diadakan negara, ujian saringan mandiri, dan jalur khusus untuk para juara kelas (Namun untuk jalur ini kampus saya terlalu arogan untuk mentah-mentah menerima tanpa tes para juara kelas =P). Sekarang tampaknya lebih banyak jalur, lebih banyak metode, dan lebih sulit menjaga kualitas.
Namun untuk kampus-kampus idola, persaingan masih selalu ketat. Bahkan di Bandung, banyak siswa yang mencari tambahan pelajaran hingga 2 tempat bimbingan belajar. Memang kultur belajar di Asia banyak mengadopsi metode Cramming, belajar dengan volume materi yang banyak dalam waktu singkat, untuk menghadapi tes. Pragmatis, hal yang akan sangat menyulitkan di kehidupan kuliah nantinya.
Namun itu belum seberapa, Cina dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, menjadikan persaingan antar individu, begitu kerasnya hingga sulit diterima akal sehat.
Foto diatas diambil ketika para siswa mempersiapkan ujian masuk Perguruan tinggi, salah satu SMA terbaik di Cina, Xiaogan, memperbolehkan siswanya menggunakan infus sambil belajar. Pihak sekolah membenarkan hal ini dengan dalih untuk menjaga kondisi tubuh para siswa yang mati-matian mempersiapkan diri untuk seleksi masuk PT.
Setiap siswa memiliki tumpukan buku di meja masing-masing, buku tersebut tidak akan muat apabila di letakkan di lemari kecil.
Saya sangat salut dengan semangat para siswa, namun sebenarnya hal ini lebih terlihat menyeramkan daripada membanggakan, seperti inilah society membentuk kita.Cina memang selalu terkenal dengan hal yang bersifat ekstrim, manusia sangat banyak disana, begitu banyak orang yang rela mati-matian untuk gaji yang tidak seberapa. Hal inilah yang membuat produk-produk Cina begitu murah dipasaran, selain kualitasnya mungkin lebih rendah, buruhnya juga lebih murah.
Apakah Indonesia, sudah cukup kuat untuk bersaing begini kerasnya, dalam setiap individu atau sebagai suatu negara?
:Cheers.
Saya tiba-tiba berpikir mengenai hal ini kembali, dikarenakan adik-adik sepupu yang sekarang ambil bagian. Saat ini jalur masuk PTN tidak lagi sesederhana seperti masa saya. Dulu hanya ada 3 jalur, ujian yang diadakan negara, ujian saringan mandiri, dan jalur khusus untuk para juara kelas (Namun untuk jalur ini kampus saya terlalu arogan untuk mentah-mentah menerima tanpa tes para juara kelas =P). Sekarang tampaknya lebih banyak jalur, lebih banyak metode, dan lebih sulit menjaga kualitas.
Namun untuk kampus-kampus idola, persaingan masih selalu ketat. Bahkan di Bandung, banyak siswa yang mencari tambahan pelajaran hingga 2 tempat bimbingan belajar. Memang kultur belajar di Asia banyak mengadopsi metode Cramming, belajar dengan volume materi yang banyak dalam waktu singkat, untuk menghadapi tes. Pragmatis, hal yang akan sangat menyulitkan di kehidupan kuliah nantinya.
Namun itu belum seberapa, Cina dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, menjadikan persaingan antar individu, begitu kerasnya hingga sulit diterima akal sehat.
Foto diatas diambil ketika para siswa mempersiapkan ujian masuk Perguruan tinggi, salah satu SMA terbaik di Cina, Xiaogan, memperbolehkan siswanya menggunakan infus sambil belajar. Pihak sekolah membenarkan hal ini dengan dalih untuk menjaga kondisi tubuh para siswa yang mati-matian mempersiapkan diri untuk seleksi masuk PT.
Setiap siswa memiliki tumpukan buku di meja masing-masing, buku tersebut tidak akan muat apabila di letakkan di lemari kecil.
Saya sangat salut dengan semangat para siswa, namun sebenarnya hal ini lebih terlihat menyeramkan daripada membanggakan, seperti inilah society membentuk kita.Cina memang selalu terkenal dengan hal yang bersifat ekstrim, manusia sangat banyak disana, begitu banyak orang yang rela mati-matian untuk gaji yang tidak seberapa. Hal inilah yang membuat produk-produk Cina begitu murah dipasaran, selain kualitasnya mungkin lebih rendah, buruhnya juga lebih murah.
Apakah Indonesia, sudah cukup kuat untuk bersaing begini kerasnya, dalam setiap individu atau sebagai suatu negara?
:Cheers.
Minggu, 22 April 2012
Dalam Doaku - Sapardi Djoko Darmono
(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”)
“Hujan Bulan Juni”)
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu
Minggu, 11 Maret 2012
Crack.
I wish I could stop bullying myself,
Stop being personal asshole.
I'm my best friend and my worst enemy - Paulo Coelho.
Stop being personal asshole.
I'm my best friend and my worst enemy - Paulo Coelho.
Langganan:
Postingan (Atom)