Senin, 27 Juni 2016

Ada kabar dari New York.

Ada kabar dari New York, tentang Blair yang baru menikahi gadis pujaannya, dibesarkan dan didikte bahwa seorang wanita haruslah habiskan hidup dengan laki-laki. Blair dan Lucy, mengikat janji semati, tidak peduli dengan kamu atau aku atau pada teriakkan bahwa cinta dan nafsu itu tipuan terbesar dalam hidup, jika tak mampu kau kendalikkan, lebih baik sudahi dengan kubur dalam-dalam.

Tapi bagi Blair dan Lucy cinta katakan tidak kali ini,kali ini cinta menang.

Ada kabar dari New York, tentang Karant yang berangkat dari Mumbay, berbekal satu koper dan sepucuk surat. Yang sengaja ia simpan untuk dibaca sesampainya di Bay Ridge, di sofa yang merangkap tempat tidur, di sudut di ruang kecil yang dibaginya bersama Kashish dan Hanesh. Ditulis ibunya dengan tinta merah, “Om gam ganesaya namah, Om kami tundukkan diri ke Ganesa, Dewa ilmu pengetahuan, Dewa orang banyak. Karant anakku, kamu boleh rindu, tapi kamu tidak harus kembali. Semoga diterangi jalanmu dalam perantauan”

Ada kabar dari New York, tentang Rob yang putuskan untuk mengejar mimpinya dalam dentingan gitar dan topi cowboy, menyuarakan pesan perdamaian yang mungkin orang-orang sudah muak dengar, dihempas lalu-lalang orang di Times Square, ditengah kepungan kumpulan orang yang tidak peduli. Rob katakan dengan lantang, bahwa seni itu pilihan, walau hanya kenakan celana dalam.


Selalu ada kabar dari kota New York.

Ada Kabar yang melintasi Brooklyn Bridge, yang ketika malam diserbu seribu kunang-kunang yang terang berganti di langit-langit Manhattan.

Ada kabar yang sampai ke orang-orang Hokkien di China Town, di tengah pasar sayur dan remang-remang lampion. Di tengah jualan oleh-oleh murahan yang sudah rusak bahkan sebelum sampai ke tempat tujuan.

Ada kabar dari pengemudi becak asal Nigeria yang dalam kantuk, masih sibuk tawarkan jasa di depan gerbang Central Park di Lincoln Square, untuk bersama mereka kelilingi hutan di tengah belantara aspal dan beton.

Ada kabar dari kereta bawah tanah, yang menjadi pembuluh darah kota yang tak pernah mengaku tua. Mengalir deras, menyebar dan menyentuh setiap sudut kota. Mengantar setiap jiwa-jiwa yang setengah terisi dan setengah mati berusaha bertahan.

Ada kabar yang akhirnya sampai di telingaku, yang sedang duduk di bangku kayu di Washington Square, sambil perhatikan daun gugur pelan-pelan, merah kecoklatan dan tembaga. Sambil kudengar alunan terompet, yang berusaha kembalikan ingatan kota ini tentang Chet Baker, tentang Miles Davis, tentang Louis Armstrong. Tentang romansa yang sudah menjadi kisah dan sejarah, tentang ringan dan indahnya melangkahkan kaki di Greenwich Village, tentang sepotong cupcake yang dibagi berdua sepasang kekasih di Bleecker Street.


Selalu ada kabar dari kota New York, tentang aku yang kian lama kian terkikis, terbentur, terbentuk dan akhirnya menjadi bagian dari deru, cita, dan cinta 8.5 juta orang yang berlalu-lalang dalam sejuknya udara musim gugur di tengah kota yang menolak untuk tidur.

Rabu, 30 Desember 2015

Kamarku di lantai tiga.


Dari lantai tiga ini aku memulai dan mengakhiri hari.
Dindingnya tipis dan lantainya berderik-derik ketika aku melangkah.
Kamarku selalu berantakan, di Bandung dan juga disini.

Di Bandung dan juga disini, aku punya buku-buku yang kebanyakan belum terbaca.
Dari semua yang berantakan di dalam kamarku, dengan bangga aku pandangi buku-buku yang berderet rapi di rak.

Buku-buku ini selalu menjadi bagian dari jiwaku, mengizinkan aku untuk berdiskusi, bermimpi, beranikan diri untuk memandang jauh sekali ke depan dan belajar dari cerita-cerita lampau yang penuh dengan petualangan.

Kamar ini dulu dingin sekali.

Lantainya penuh debu dan juga dindingnya banyak bercak-bercak.
Aku bersihkan sedikit-sedikit.

Aku letakkan baju-baju, buku-buku, sepatu-sepatu.
Aku gelar karpet termurah yang bisa aku temukan dan aku hamparkan sajadah yang aku bawa dari rumah.

Disini aku akan tersungkur, tertunduk, menangis, bercerita, dan meluapkan semua perasaanku.
Diatas sajadah ini.

Di satu sisi kamarku, ada peta dunia besar sekali.
Sekali-kali aku lintasi jemariku diatas peta besar tersebut,
ah hanya 7 langkah jemari, menyebrangi Samudra Atlantik, melewati Eropa, menuju rumah.

Semua, semua tentang aku, di kamar ini.

Kuletakkan.

Kulemparkan.

Kutempelkan.

Kuhamparkan.

Kuteriakkan.

Kamar ini mulai perlahan menjadi hangat.
Perlahan menjadi mesra dalam serbuan angin yang menggetar-getarkan jendelannya.
Walau dindingnya tipis, tetapi selimutnya hangat.
Walau lantainya berderik-derik ketika aku melangkah, tetapi tidak diatas karpetku.

Kamar ini perlahan menjadi rumah.

Setiap kali aku melangkahkan kaki keluar kamar ini, aku pandangi sekeliling sebelum pintunya aku kunci.

Kamar di lantai tiga ini, akan terus ada disini ketika aku kembali.







Sabtu, 05 Desember 2015

Volks.

Di cafe kecil tersembunyi dari deru-deru ibukota, disitu kami jatuhkan beban kami.

Kami longgarkan dasi, kami singkirkan arogansi, dan kami hirup aroma kopi.

Menyengat dan membawa kami terjaga dalam perbincangan panjang.

Itulah hidup, jelas kawan satu ini.
 
Bukan disitulah segala macam politik dan birokrasi yang pegang kendali, mulai sahabatku satu lagi.

Budaya, sejarah, alam yang luar biasa indah, di danau itu, di sawah itu, di tengah belantara, menyusup jauh sekali ke ujung-ujung Nusantara, tumpahkan semua di meja 50x50 centi

Ambil gitar, aku yang nyanyikan lagu. Kali ini aku yang luapkan emosi.

Tentang Lintang yang kemilau, yang coba aku bawa turun ke bumi, kuajak berkeliling.
Tentang senyumnya yang manis sekali, yang selalu aku ulang-ulang kembali tepat diatas meja ini.

Kalian dengar, kalian tertawa, kalian hembuskan asap rokok tersebut sebelum kalian tumbukkan bara apinya,

"Cinta juga yang buat dunia berputar!"

Gelak tawa mengudara tepat jam dua tiga nol nol.

Kita dulu semasa putih abu-abu, apa pernah terpikir seperti ini? Apa terpikir akan langkahkan kaki di jalan masing-masing?

Berat rasanya aku ambil jalan memutar ini sahabat, menjauh dari canda tawa yang kita sama-sama mengerti.

Dari pesan-pesan hidup lewat adukan kopi ataupun dari kebijaksanaa ditengah-tengah tebalnya nikotin yang melayang-layang.

Aku sahabat,

Dari sinipun aku senang pikirkan kalian.


 






Sabtu, 28 November 2015

125th St and St. Nicholas

 Prolog

Rumah ini tidak berubah banyak, tapi ini pertama kalinya aku masuk ke kamarnya. Dan itu dia, terbaring diatas ranjang.

Aku berjalan pelan ke sisi ranjang dan duduk di bangku kecil yang tampaknya memang sudah disiapkan.

Dia tampak lemah sekali, namun seketika dia menyadari kehadiranku.

“Aah Look at him, how are you boss?”

“Baik, how are you, Pak? “

“I’ve been better” jawabnya sambil tersenyum kecil

Ada lukisan rajutan menorah dalam bingkai tertempel di dinding, di sisi lain tempatku duduk.

“For below reform, that’s suprising”

“Ooh that, I just kind of want to see how does it look on my wall”

“With that level of joke, seems you’re healthy enough to compete in next marathon”

“I can beat you even if you’re using a train”

“Well keep that spirit, pak”

Usianya mendekati 70, tapi dia tidak terlihat berbeda jauh ketika aku pertama kali bertemu dengannya 8 tahun lalu, kalau dia tidak sakit seperti saat ini mungkin dia benar-benar bisa mengalahkanku dalam marathon.

“Anda menyaksikan game Yankees kemarin?” sambil aku tuangkan untuknya segelas air.

“Tidak, akibat kondisi keparat ini sangat sulit untuk terjaga cukup lama, tapi jangan ceritakan kepadaku, Denise berjanji dia akan beritahukan hasilnya”

“Yakin?”

“Just don’t tell Denise….”

“Red-Sox beat them”

“You must’ve been crazy, why you told me!” seakan-akan dia benar-benar kesal.
“Benar-benar konyol, dimana Rodriguez dan… dan Tanaka, oh yaa aku ingat they’re gone”.

“Denise akan marah besar kepadaku”

“Ngamuk lebih tepatnya” Nafasnya tampak tersengal-sengal

Tiba-tiba dia batuk keras sekali. Berkali-kali.

Kusodorkan kepadanya gelas tadi.

Setelah kembali kendali dirinya, dia tampak akan menyusun kata-kata.

“ Seems you’re doing great?”

“Yeah here and there”

"Saat pertama kali aku bertemu denganmu, ingat apa yang aku bilang?"

"Ini dia insinyur dari padang kita?"

"Yeaah, padang guy they have always something in here", sambil menunjuk-nunjuk pelipisnya.

Aku hanya tersenyum, aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia menanyakan hal tersebut.

Walau ditengah wajahnya yang super pucat dan berbintik-bintik. Sekilas kulihat air mukanya berubah

“So have you decided it yet?” Matanya menatapku dalam.

Bangku kecil ini mendadak terasa dingin.


……………

11.000 KM dan ini dia sofa yang sudah dijanji-janjikan.

Lumayan, walaupun tidak seperti yang aku bayangkan. Tapi ini jelas lebih dari cukup.

“Sorry, it’s just a sofa”

“Gapapa Ka, saat ini yang penting cukup untuk bertahan hidup” jawabku sambil tersenyum

There’s the bathroom, the water heater little bit slow tho, just throw your bag anywhere around here,"Sambil menunjuk area kecil disekitar sofa

"My roommates won’t be here until Thursday, so just take it easy. Mmm and anywaaaay have a nice rest, we’ll catch up tomorow, good night, Lang”

“Good night, Ka”

Dia masuk ke salah satu kamar, tanpa aku sempat perhatikan kamar yang mana. Selepas kudengar suara ketukan kecil, segera kuhempaskan badan ke sofa tersebut.

Hufftt, tarik napas dalam-dalam.

Baik, aku disini.

Sekarang.

Duduk dan akan tersungkur diatas sofa yang hanya dilapisi semacam taplak meja.

Tiba-tiba terbersit apa yang John Lennon pikirkan malam sebelum dia ditembak mati di depan apartemennya?

Apa dia sulit tidur?

Apa dia melihat atau mendengar tanda-tanda bahwa dia akan mati, tersungkur berlumur darah besok.

Atau dia mungkin melihat ke luar ke arah lampu-lampu yang tak kunjung padam di awal bulan Desember.

Seperti yang aku lakukan dari sini, dari lantai 4, 125th and St.Nicholas.


Nah.

Just try to close my eyes. 

Maybe as John did.

Senin, 23 November 2015

Di petak tanah kecil ada bunga matahari.

Ada satu petak tanah di rumahku, letaknya dekat pagar, lebarnya mungkin 40 cm panjangnya 1 meter setengah. Di pinggirnya ayah pasang rangkaian besi seperti rel kereta, agar anggur bisa meranggas.

Di tanah tersebut aku tanam bunga matahari dekat dengan tanaman cabai yang mama tanam, juga tomat. Aku tidak pernah tau cara merawat bunga, tapi sesekali aku siram tanahnya. Aku perhatikan bunga tersebut setiap hari, sebelum berangkat dan ketika pulang. Cerah terang benderang, walau kelopak-kelopaknya tampak kering diujungnya. Bunga itu selalu menyambut, di pagi hari dia menyambut dan ketika malam dia menghadap kearahku.

Tournesol, sang pengelana mentari, kata sahabatku Anne. Tournesol yang mencari datangnya sinar matahari.

Entah kenapa di dalam kereta ini, 10 ribu mil jaraknya, aku teringat bunga itu.

Mungkin karena bunga itu tak pernah mengecewakan, tetap bersinar.

Tetap benderang.





Minggu, 24 Mei 2015

Hari Pertama Lintang.

Kalau kalian melihat Lintang, dengan seyakin jiwa kalian akan tahu betapa bersemangatnya dia hari ini.

Hari ini, hari pertama Lintang bersekolah, jauh-jauh hari sebelumnya Lintang sering sekali berbicara dia ingin cepat-cepat bersekolah.

"Penantian panjang", Lintang bilang kepada dua adiknya yang masih kecil-kecil, sama-sama gadis.

Sekarang hari ini telah datang, bukan begitu Lintang?

Bajunya sudah terpakai rapi, baru pula. Tidak lupa rompinya berwarna biru tua, baru dijahitnya kemarin, katanya di ruang kelas dingin dan bapak ibu guru lebih suka melihat gadis manis rapih memakai rompi.

Rambut ikalnya panjang, dikuncir diikat ke belakang, ibu dan omanya sering mengingatkan rapihkan rambutmu ikat ke belakang, anak gadis harus rapih, walaupun tidak nyaman tapi Lintang juga sepakat bahwa hari ini hari penting.

Jarinya yang kurus dan panjang-panjang dengan perlahan meletakkan buku-buku ke dalam tas. Terlebih dahulu buku gambar, lalu buku tulis, dan kotak pensilnya yang dia pilih sendiri kemarin, kotak plastik berwarna merah muda, dia benamkan di dasar tas.

Ah...hari ini hari besar bagimu yah Lintang? Kacamata bingkai hitammu, lalu senyummu yang mengembang sebelum keluar kamar.

Ayo ayah dan ibunda sudah menunggu diluar. Cium tangan ayah dan ibumu, peluk erat sebentar.

Lintang, lambaikan tanganmu dari mobil jemputan.
Bertemu kawan-kawanmu yang juga baru-baru,
tetapi Lintang cerdas, Lintang cantik, tak pernah malu-malu.

Sodorkan tangan terlebih dahulu, tunjukkan bahwa kamu siap melalui cemerlang senyummu.

Karena apapun juga kamu adalah Lintang.

Ayah dan Ibunda Lintang, juga oma dan opa, dan adik-adik cantikmu yang sekarang masih lelap tertidur, mereka juga ikut. Tidak dalam mobil jemputan itu, tidak bersama kawan-kawan barumu.

Tetapi dalam doa.

Teriring

Semoga Allah, selalu menjaga senyummu Lintang,
Dalam langkah awalmu.

Dalam doa ini kami bayangkan kamu selalu sehat, kami bayangkan kamu selalu dalam kemudahan.
Kami bayangkan kamu Lintang, kamu kuat dan tegar. Sehingga dapat kamu temukan apa yang selama ini ada dalam keingintahuanmu.

Aku yang selalu memperhatikanmu, juga punya doa, memang tidak akan terucap, namun apapun itu, lebih baik kutunggu kamu pulang Lintang.

Dimana kamu bisa ceritakan harimu

Aku bisa ceritakan hariku

Dan tentang apa yang ada diantara itu.

Tentang hari ini, hari pertama Lintang.








Jumat, 15 Mei 2015

Dari Bangku Belakang.

Siang itu begitu panasnya di jalan Palmerah, telah lama aku menunggu sampai akhirnya ada taksi yang menjawab lambaian tangan. Kubuka pintu belakang, kuletakkan pelan ransel diatas bangku lalu kugeser keujung agar ada ruang.

Kuucapkan salam kepada pengemudi, seperti biasanya.

Aku selalu ucapkan salam terlebih dahulu, karena pertama-tama menurutku memang begitulah seharusnya.
Kedua, aku ingin tau seberapa ramah pengemudi taksi tersebut, membantuku untuk tidak cemas dan tak terpikir macam-macam.

Aku masih ingat, namanya Wahyudin. Mungkin diawal-awal 40 tahun umurnya. Dia menjawab salamku dengan hangat, menanyakan kabar dan meminta arahanku kemana taksi akan dia kemudikan.

Taksi sudah berjalan beberapa kilometer ketika pak Wahyudin  membuka pembicaraan, dia mengatakan jalan Gatot Subroto saat ini macet luar biasa, bisa dikatakan lumpuh, karena ada truk yang menumpahkan cairan kimia menyebabkan kendaraan tak bisa melintas. Aku sendiri sudah mengetahui kabar tersebut dan membenarkan pernyataannya.

Saat itu aku tidak berpikir banyak mengenai kemacetan di jalan Gatot Subroto, aku hanya berharap aku akan sampai tepat waktu di kantor sore itu. Aku berjanji sudah ada di kantor jam 4 sore untuk meeting persiapan project keesokan harinya.

Di sekitar jalan Permata Hijau, pak Wahyudin berkata kepadaku, "Teman saya sebentar-sebentar sms mas, menanyakan jalan"
"Maklum baru bergabung jadi pengemudi"

Melalui spion tengah kulihat dia juga menatapku di bangku belakang

" Dia baru di Jakarta pak?", Tanyaku.

"Engga sih, dia baru saja jadi supir taksi mas, lulusan S1"

Aku menyadari adanya realita ini, bahkan aku kenal beberapa orang yang demikian. Sarjana ekonomi menjadi satpam, sarjana sains matematika menjadi office boy, gelar sarjana bukan lagi tiket masuk.

"Sayang sekali, lulusan mana pak? "
"Wah lulusan mana yah mas, saya juga belum sempat tanya-tanya, orang baru kemarin dia masuk. Dia bekas manajer, perusahaannya bangkrut"

Seketika juga ucapannya menyedot perhatianku. Aku masih bisa mencerna apabila dia baru saja lulus, tapi manajer?

"Apa perusahaannya pak?"

"Semacam perusahaan konstruksi gitu mas"

Di bangku belakang, diatas jok hitam itu aku kembali teringat kata-kata Ayah.

Bahwa manusia terkadang tak lebih dari debu diatas meja yang kotor. Dihempaskan sekali hilang beterbangan. Sekeras apapun upaya berpegang akan kacau dan menghambur.

"Sekarang sambil mengemudi taksi, dia juga mencari pekerjaan lain mas, namun susah katanya"

Aku tak banyak berbicara setelahnya, aku terpikir kadang kita punya mimpi setinggi langit, sedikit saja meleset dari impian kita rasanya kesal dan tidak adil. Namun, banyak impian yang tak mampu keluar dari bilik-bilik kamar. Impian yang bahkan tak terpikir, karena yang terbayang hanya hingga hari esok, selebihnya cuma misteri.

Masa depan bagiku juga selalu misteri, tapi selama ini selalu kulihat terang benderang, aku sadari saat itu bahwa mungkin karena keadaan berpihak kepadaku.

Apabila tidak lagi berpihak, akankah aku masih bisa seperti ini? Ketika dihempas dengan sebenar-benarnya dihempas apa masih punya keberanian untuk melihat keatas?

"Mas dulu lulusan mana?" tanya pak Wahyudin ketika kami memutari bundaran HI

"ITB pak"

"Luar biasa, pengen saya seperti mas"

Aku hanya memberi senyum.

Sampai di tempat tujuan, aku,  masih dari bangku belakang merapihkan ranselku dan menyerahkan uang 80 ribu.

"Terima kasih mas, minggu depan saya wisuda, kelas malam, mudah-mudahan rejekinya anak-anak bisa liat bapaknya kerja kantoran"

Dari bangku belakang, aku jabat erat tangannya dan bergegas keluar.

15.57

Bangku Belakang menyisakan cerita untuk yang lain.











Rabu, 06 Agustus 2014

+60



+60.

Jika kode area ini, diikuti dengan nomer telefon, muncul di layar hp sebagai telefon masuk. Seketika itu juga aku tahu bahwa hari yang menyenangkan telah berakhir.

Jika diibaratkan sebagai pemadam kebakaran, +60 adalah panggilan darurat bahwa di suatu sempat, api telah menggeliat melahap. Dan sebagai pemadam kebakaran, disaat itu juga harus ikhlas meletakkan apa yang sedang kita pegang, menghentikan apa yang sedang kita kerjakan, meraih jaket anti api, mengenakkan helm dan segera meluncur menerjang kobaran api.

Terkadang yang kami dapati hanyalah panggilan konyol, menurunkan kucing dari pohon atau membantu seseorang turun dari lantai dua rumah karena dia dikunci oleh istrinya yang pencemburu, hal ini membuat hari tidaklah begitu buruk.

Sebagian lain cukup serius, api telah melahap kendaraan mereka. Berkobar besar dan asap membumbung, ekspresi lelah dan kesal tercermin dari wajah. Namun, masih bersyukur api tidak juga ikut menghanguskan rumah seisinya.

Namun diantara kesemua panggilan +60, ada beberapa yang benar-benar buruk. Api sudah terlampau besar, menjilat-jilat dengan gilanya. Meraih apapun yang bisa diraihnya, tidak peduli lagi.
Panggilan ini biasa datang dan bagiku selalu datang di tengah malam, ketika semua sedang terlelap tidur. Setelah panggilan itu, kukenakan jaketku dan kuposisikan helmku. Tidak ada rasa takut atau khawatir, sejujurnya tidak ada rasa apapun. Kumainkan lagu terbaik menemaniku mengarungi malam.

Pada situasi ini, ada yang melolong panik ada pula yang lemas terduduk menyaksikan api melahap apa yang mereka punya.  Mereka tau tidak ada lagi yang bisa mereka selamatkan, namun tidak bisa mereka hentikan rasa harap. Bahwa ditengah puing, dibawah tumpukan abu, masih ada yang bisa dipungut dan dari situ semuanya dirangkai kembali.

Api terkadang begitu besar, beribu-ribu litter air telah ditumpahkan tidak juga ada tanda ia mengalah. Tiup angin memperburuk keadaan, membawa jilat api kesana kemari. Namun kami tidak datang hanya untuk menjadi penonton, jika kami datang berarti kami juga sudah siap terpanggang.

Malam hari kami berangkat, pagi dan kemudian masuklah siang. Api sudah mulai padam, kami matikan tepat dimana ia muncul, sampai akhirnya tinggal asap membumbung. Asap menjadi pertanda, membuat orang menyaksikan dan berkumpul.

Yang tersisa hanyalah puing, rongsok dan abu.

Sunyi ketika api itu padam, membuat kupingku sakit bahkan. Baru kurasakan jemari dan wajahku terasa perih, terpapar asap dan terpanggang api.

Kulepaskan jaketku, kutanggalkan helmku. Kuhempaskan ke bagasi mobil.

Seluruh mobil jadi bau asap.

Kumainkan musik terbaikku, tidak ada +60 lagi hari ini.





Minggu, 27 Juli 2014

Ramadhan Kemarin.

Banyak sekali hal yang menyenangkan telah kita nikmati di bulan ramadhan. Makanan dan minuman terasa jauh lebih lezat, kebersamaan erat bersama keluarga dan teman-teman, serta ibadah yang dapat dinikmati lebih intim dan dalam.
Ramadhan memberi kesadaran bagiku. Kesadaran bahwa jalan panjang dan terjal untuk lebih dekat dengan Tuhan, pada bulan ramadhan dimudahkan dan dimungkinkan.

Ramadhan memberi kesadaran akan tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap rezeki berlimpah yang aku nikmati. Bagaimana diluar ramadhan, rezeki itu terasa mudah dan terkadang murah. Di dalam ramadhan rezeki itu ditunjukkan nikmatnya dan dinanti tanggung jawabnya. Untuk itulah tidak cukup rezeki hanya disyukuri, namun juga dipertanggungjawabkan.

Ramadhan juga memberi kesadaran, bahwa dia sempat begitu dekat dan kini telah begitu jauh berlalu. Satu detik di depan, satu hembusan nafas, ataupun satu detak jantung benar-benar begitu jauh. Tiap tahunnya ramadhan memberikan harapan dan seketika aku telah dia tinggalkan.

Ramadhan kini, sudah menjadi ramadhan kemarin.

Segala yang baik yang terjadi kemarin, mungkin dan nyata untuk besok. Telah ramadhan tunjukkan dan contohkan.

Segala yang buruk yang terhalang kemarin, mungkin dan nyata untuk tetap terhalang besok. Telah ramadhan tunjukkan dan contohkan.

Segala tembok kemalasan dan keengganan telah tertembus kemarin, tetap terbuka untuk besok. Telah dibukakan oleh ramadhan.

Ramadhan esok, semoga aku berjodoh dengan engkau, entah di belahan bumi mana kita bertemu, tidak akan kubuat malu ramadhan kemarin.



Senin, 12 Mei 2014

Idealis

Aku sedang berada di tengah-tengah pesta, di lantai dua.

Setahuku aku tidak sendiri pergi ke pesta ini, hanya saat itu tidak ada orang yang aku kenal berada di sekitarku. Dan aku sulit mengingat dengan siapa aku berangkat.
Namun dari lantai dua, aku bisa melihat ke arah pintu masuk gedung, di sisi pintu masuk, aku melihat A, dia teman SMP ku.

Kami tidak pernah sekelas dan aku hampir tidak mengenal dia sebenarnya. Tapi aku yakin dia juga tau aku.

Aku yakin ini pesta pernikahan, karena sepanjang yang aku ingat, aku tidak pernah berada di pesta selain pesta pernikahan. Paling tidak, tidak sebesar ini.

Dan seperti biasanya, aku menunggu hingga, entah siapapun yang aku temani ke pesta ini, selesai dengan urusannya. Seketika hpku berdering, kulihat panggilan masuk dari M.

"M?", pikirku.

Mungkin lima tahun lebih kami tidak pernah bertegur sapa lagi dan setahuku dia menghindariku. Kini di tengah pesta ini, aku mendapat panggilan telepon darinya.

Aku segera jawab panggilan itu," Halo, M?"

"Ginda kamu dimana? Aku gatau harus bilang ke kamunya gimana, but I'm so happy for you".

"Aku sedang di XXXX, kenapa M?"

"Aku kesana yah", M menutup teleponnya.

Seketika kami tidak merasa canggung. Seakan-akan kami tidak memiliki masa lalu.

M yang dulu, yang aku kenal, memang seperti itu. Keberadaannya selalu menghangatkan.

Aku perhatikan dari pintu masuk, M dengan berlari-lari kecil melewati A yang masih tetap berdiri di pinggir pintu.

Kenapa mereka tak bertegur sapa? M dan A adalah teman satu SMA, bahkan mereka bertetangga.
M punya reputasi besar sebagai gadis yang ceroboh dan tidak sadar dengan sekitar, aku sangat pahami jika dia tidak menyadari keberadaan A. M berlari tepat di depan A, namun A tidak pula menegurnya.

M tidak menjadi pusat perhatian, walau di tengah pesta ini dia hanya mengenakan jeans dan kaos.
Jeans biru, sekeras yang aku bisa ingat kaos putih.

Aku menghampirinya, menuruni anak tangga. Kurasakan sedikit gugup mengenai kabar yang ingin ia katakan. Aku memang sedang menunggu kabar besar, namun tidak mungkin dia tau tentang itu, pikirku singkat.

M.

Dengan senyum khasnya.

Dia menggandengku keluar, kami melewati lorong dan tiba di suatu tempat yang kurasakan sangat mirip dengan kawasan sabuga.

"Aku harusnya tidak boleh bilang ke kamu Ginda, tapi aku tidak tahan untuk kasih tau"

"Apa sih, M?"

"Mmmm sebentar, tapi aku mau pipis dulu?"

Dan dia pergi, entah mencari kamar kecil dimana.

Tak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat T dan B. Sedang duduk diatas motor, berbincang seru seperti biasanya. Ternyata itu parkiran motor, dengan rumput hijau dan tiang-tiang untuk membariskan motor.

Aku menghampiri mereka dan menyapa, disaat itu aku ingat kunciku tertinggal di tiang itu.
Namun, aku memang selalu canggung, malah botol bekas air minum yang kuambil.

T dan B tertawa terbahak-bahak, segera kuambil kunci motor dan pergi untuk menyelamatkan mukaku.

Kulihat M sudah berada di tempat kami semula berpisah,

"Ginda kamu hebat deh, temen kamu siapa namanya, yang sering bikin iseng?"

Aku sebut nama T dan Adr, temanku yang selalu jadi pusat perhatian, karena tingkah lakunya yang lucu.

"Iya, T dan Adr, mereka tidak akan berbanding dengan kamu"

"Kamu smart"

"Namun selalu saja salah pilih calon istri"

Kutatap wajahnya, dia tampak sadar telah mengucapkan hal tersebut.

Aku ingin mengatakan kepadanya, betapa leganya aku akhirnya bisa kembali berbicara dengannya lagi.

Namun dia lebih dahulu mengatakan

"Ginda kenapa kamu tidak mencoba lebih idealis?"

Aku menatap wajahnya

Dalam mata terpejam, aku terus menatap wajahnya.

Namun aku menyadari ini telah berakhir, tidak ada kata lanjut yang M ucapkan.

Aku memilih untuk bangun dari tidur.

kubuka mata dan cukup lama terdiam.

Idealis, M?

Sabtu, 15 Maret 2014

KKK

- Hari ini, dalam sekian fraksi perasaan, mungkin aku dapat merasakan rindu orang tua kepada anaknya :)

Hari ini hari Sabtu, bekerja di hari Sabtu sempat membuatku lupa bahwa weekend, semenjak 1,5 tahun lalu, selalu lebih instimewa. Hal yang mengingatkanku kembali ialah kaos kutang

Kaos kutang, sepatu, baju, celana, kaos kaki lebih tepatnya

Semuanya dalam ukuran ekstra kecil. Ada yang tergantung di tali jemuran, teronggok di sudut lemari sepatu, atau terlipat rapi di keranjang cucian. Kesemua benda tersebut kepunyaan Kay. Dipakainya saat bermain, naik turun tangga, berhitung satu dua tiga enam tujuh delapan sepuluh dan berlari kencang sekali ketika diajak makan.

Kay datang tadi siang, kemudian aku berangkat kerja di sore hari, dan kembali tepat jam 9 malam.
Ketika aku masuk ke kamar mandi, kutemukanlah kaos kutang itu. Ber bercak coklat, ketumpahan milk tea.

Kay jam 9 sudah tidur. Namun, aku rindu sekali.

Tapi Kay sudah tidur.

Jadi aku ambil wudhu, lalu shalat isya.

Dalam doaku, aku curahkan kerinduanku, semoga ia jadi anak yang cantik, cerdas, sehat-sehat serta periang. Cukup itu saja.

Besok Kay akan hitung lagi satu dua tiga enam tujuh delapan sepuluh. Aku optimis Kay bisa selipkan empat. Satu dua tiga enam tujuh empat delapan sepuluh.



Sabtu, 26 Oktober 2013

Racauan

Konsisten itu memang paling sulit. Entah karakter atau tempaan hidup yang bisa membuat orang menjadi konsisten. Ambilah kegiatan tulis menulis ini sebagai contoh, sudah berbulan-bulan tidak ada posting baru yang masuk. Padahal hidup saya tidak pernah kekurangan cerita. Tiap harinya selalu ada cerita menarik yang dapat diceritakan.

Seringkali saya begitu ingin kembali menulis, laptop sudah menyala dan draft kosong sudah di depan mata. Namun seketika jemari ini berada di atas keyboard, seketika juga gairah untuk menulis itu hilang. Kadang disebabkan oleh perhatian yang teralihkan pada website-website lain atau otak dan perasaan menolak bekerja sama.

Saat mengetik kalimat inipun, saya tidak tahu apakah tulisan ini akan saya publish atau tidak. Jika anda membacanya, berarti energi baik sedang ada dalam kendali saya, sehingga saya dapat menyelesaikan tulisan ini.

Kehidupan saya akhir-akhir ini sebenarnya tidaklah jauh berbeda dengan bulan-bulan yang lalu, pada saat saya masih cukup aktif menulis. Mayoritas diisi dengan bekerja dan belajar. Namun, satu hal yang berbeda ialah saya semakin punya bayangan kemana arah dari rutinitas saya ini. Hal ini membuat saya semakin bersemangat menggali-gali informasi serta melihat-lihat peluang yang ada.

Waktu berjalan sangat cepat jika kita menikmati apa yang kita lakukan. Hari demi hari lewat begitu saja, benar memang saya menikmatinya. Namun, saya masih perlu banyak belajar sehingga semua pekerjaan dan pelajaran yang telah saya lewati dapat memberikan hasil yang lebih maksimal. Untuk saat ini dan persiapan masa depan.

Achievement.

Mungkin itu kata yang paling tepat. Kenikmatan kerja dan belajar ini saya harapkan dapat membentuk momentum yang pas, sehingga raihan-raihan atau achievement itu tadi dapat saya capai.

Eh tapi pada awal itu saya bilang konsisten itu sulit yah.....



Minggu, 26 Mei 2013

3.30

Bulan kemarin dan bulan ini pula saya lewati dengan harap-harap cemas. Saya menyadari satu hal, bahwa menunggu sesuatu yang sangat penting begitu mempengaruhi orientasi berpikir dan menyita waktu. Saya sering berkali berpikir begitu dalam mengenai hal ini dan pemikiran yang dalam selalu mendekatkan diri saya kepada Tuhan. Karena pada akhirnya tidak ada satu detik pun di masa depan yang dapat kita simpulkan dengan pasti. Lalu saya upayakan tiap malam untuk membangun komunikasi yang lebih personal dengan Tuhan. Di sunyinya malam dan remangnya cahaya, seorang insan mempunyai hak khusus dalam satu jendela waktu, untuk mencurahkan pikiran kepada Tuhan.

Ya Allah, 
Engkaulah yang menumbuhkan harapan
Engkaulah yang memberikan inspirasi
Hamba yakin engkau pula lah yang akan menjaganya.

Di tengah malam, ditengah sajadah.
Di dalam renungan. 
Aku yakin cita-cita kecilku dituliskan di langit.







Rabu, 10 April 2013

Selasa, 02 April 2013

Petikan untuk para Ibunda.

Tiga tahun lalu kalimat ini diposting oleh salah satu gadis tercerdas yang pernah saya kenal untuk memperingati hari ibu.

" Justru karena ingin jadi ibu makanya saya sekolah tinggi tinggi. Ibu yang akan mendidik sendiri anak anaknya jadi putra-putri peradaban. Bukan ibu yang merelakan anaknya dididik pembantu karena sibuk jadi kuli di kantoran. "

Hal yang sangat mengagumkan ternyata muncul dari kesederhanaan. Tidak memukau bersinar-sinar, sehingga memaksa kita ternganga.

Namun begitu mendasar.

Begitu hangat, begitu sederhana.

Sang gadis telah menjadi ibunda sekarang. Langsung menikah setelah lulus kuliah.




Minggu, 24 Februari 2013

Sedikit tentang inspirasi

Tampaknya saya benar-benar manusia yang sangat bergantung pada inspirasi. Karena dari inspirasi tersebut barulah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Bahkan saya bisa sangat bersemangat hanya dengan mendengar atau membaca kalimat yang bisa membuka pintu inspirasi.

Inspirasi bagi saya tidak melulu datang dari sesuatu yang positif. Hal tidak mengenakkan, seperti tekanan serta perlakuan tidak menyenangkan lainnya juga turut memberi andil dalam memberi saya inspirasi. 

Beruntunglah saya diberi banyak keran inspirasi.

Jumat, 15 Februari 2013

The Guest.

Regardless of the loss, the meteor falls in Russia is the most amazing phenomenon that I've ever seen. It give me the creeps when I saw the video record in TV.  Not because scared, but amazed.

Makes me realize that in this very crowded world, the world itself actually lonely.

On the darkness of infinite space, there's a dot. Event smaller.

That's earth.

And in one of her ancient movement, guests come.

Makes me want to quote Carl Sagan famous writing, the pale blue dot.


“Look again at that dot. That's here. That's home. That's us. On it everyone you love, everyone you know, everyone you ever heard of, every human being who ever was, lived out their lives. The aggregate of our joy and suffering, thousands of confident religions, ideologies, and economic doctrines, every hunter and forager, every hero and coward, every creator and destroyer of civilization, every king and peasant, every young couple in love, every mother and father, hopeful child, inventor and explorer, every teacher of morals, every corrupt politician, every "superstar," every "supreme leader," every saint and sinner in the history of our species lived there-on a mote of dust suspended in a sunbeam.

The Earth is a very small stage in a vast cosmic arena. Think of the endless cruelties visited by the inhabitants of one corner of this pixel on the scarcely distinguishable inhabitants of some other corner, how frequent their misunderstandings, how eager they are to kill one another, how fervent their hatreds. Think of the rivers of blood spilled by all those generals and emperors so that, in glory and triumph, they could become the momentary masters of a fraction of a dot.

Our posturings, our imagined self-importance, the delusion that we have some privileged position in the Universe, are challenged by this point of pale light. Our planet is a lonely speck in the great enveloping cosmic dark. In our obscurity, in all this vastness, there is no hint that help will come from elsewhere to save us from ourselves.

The Earth is the only world known so far to harbor life. There is nowhere else, at least in the near future, to which our species could migrate. Visit, yes. Settle, not yet. Like it or not, for the moment the Earth is where we make our stand.

It has been said that astronomy is a humbling and character-building experience. There is perhaps no better demonstration of the folly of human conceits than this distant image of our tiny world. To me, it underscores our responsibility to deal more kindly with one another, and to preserve and cherish the pale blue dot, the only home we've ever known.”

Carl Sagan, Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space 




Senin, 11 Februari 2013

Happiness is a warm gun

I love my job.

Really.

At the beginning, I doubt myself again and again. I felt like taking wrong decision, losing in translation. I felt like fighting for something that I don't understand.

What is the purpose of this battle?

People talking about anything. Anything that I never heard off. I laugh when they laugh, acting like I feel the same way.

My job is one hell of a job. Just like reinforcements, I need to backed up when things getting hot. To make things short, when something bad happens that's when I come in. Sometimes in the middle of the night, in the deepest sleep, the phone ringing.

At that point you know shit happens, the battle just began.

 Someone somewhere needs your help. And you don't even know what you're going to do.

 You can't call any backup, You're the backup.

Months of struggling. Struggle after struggle, lost after lost. You learning to lick your wound.  You beginning to realize that's something bad, was not so bad anymore. Shit happens, became things happens.

In the middle of  this battle, you starting to predict your enemy movement, you starting to read the core strategy. You know you're not strong enough yet to face the most ferocious enemy. But you understand the battlefield more. You know when and where you attempt an ambush. How high your line is.


And when wave of enemy come in to your direction.

You shoot them.

Bang !

Bang!

Again and again. You keep shooting.

Bang!

Bang!

Your last shot repelled the enemy. You feel that glorious feeling, boost your morality to the highest level.

You share your triumph with your companion.

And in the way back to your home, you held your gun close to your chest. The gun that saved your life. It's still warm.Warm enough to make you feel safe way back home.

You know the enemy will keep coming, will keep haunting your sleep.

But for now you want to throw away all worries. Deep down inside you feel happy.

Cause, happiness is a warm gun.




Rabu, 06 Februari 2013

Young Poet

Young poet who can not sleep.

Rest your head in your words, spill the sadness in each verse.

Young poet hurts to feel the world around them, their war started, your war ended.


Young poet believes in every disturbance, each tremble in your heart will guide your hands.

Kiss me in the darkest night


Touch me with your sad poems and make your pen bleed for me until everything is finished

And make your pen bleed for me until everything has started.
 
Young poet who sees pass the time, the sun and moon

anger and calm
anger and calm.

Young poet who loves life, rest your soul and come back tomorrow, and come back tomorrow.



Senin, 04 Februari 2013

Paperman

I hope there will be a story about ITman.
curlyman
not-so-tough-man
unmatureman

But for now, let we enjoy